08 agustus 2026·4.3K Views·0 Likes·19 Replies·Poem
Bumi, Pandemi dan Kami: Puisi Kolaborasi
Bumi, Pandemi dan Kami: Puisi Kolaborasi
Udara terlihat lebih bersih Dedaunan berhasil mengantarkan oksigen Bumiku sehat. Apa bumiku sakit sebelumnya?
Hanya pengguna terdaftar yang dapat berkomentar.
Alifia Dea MawardaniApr 14
Sebelumnya tak begini, Aku mengenal bumiku sebelumnya Tak ada yang salah dengan bumiku ini, dulu ku rasakan kenyamanan tinggal di bumiku tercinta
ANGGA RIZKY SETIAWANApr 14
Bumiku baik baik saja Dedaunan masih terus bekerja Embun pagi masih membasahi pipi Ditambah keindahan Kilauan mentari
ArifahApr 14
Bumi akan terus baik baik saja Jika ia tidak memikul beban yang semakin sarat Jika manusia tidak serakah tamak dan jahat Dan jika manusia bisa hidup tanpa gejolak
Deani MourischaApr 14
Bagaimana kisahnya kini? Hal kecil berdampak besar Tangisan kini semakin bergulir Tinggal kita yang mengikuti bagaimana ia mengalir
Eka Trisna DewiApr 14
Mengalir bersama sisa sia kenangan Jatuh bersama air mata yang terbuang Menunggu berubahnya takdir tuhan Semoga penderitaan segera hilang
Fathia Marcha AnamyApr 14
Isakan tangis mengulir perlan Mengikuti alur perjalanan sunyi Berita duka seakan membuyarkan lamunan Berharap pandemi segera usai dan pergi
indah pramestiApr 14
Terasa pahitnya keadaan yang telah menghancur kebahagiaan aku ingin melihat semua terasa sempurna sedia kala layaknya jalan lurus menuju surga
Indira PujaApr 14
Sudah cukup kamu berada di bumi Telah banyak jiwa yang diambil Sudah cukup kamu bersenang-senang disini Sebagai peringatan bagi manusia labil
Iqri PebriyadiApr 14
Terkadang engkau menghukum yang benar Tetapi disaat yang tidak tepat Bukankah kamu sudah puas? Melihat alam semesta ini
KELSYA RUKHIYAH NADILAApr 14
Kami kira makhluk bermahkota itu Merekalah monsternya Tetapi sejatinya Kamilah monster itu
Khairul azmiApr 14
Kini semua kian berbeda Ketika pandemi ini melanda Seakan alam murka Pada penghuni isi dunia
Mardhiah SyahidahApr 14
Sungguh miris melihat perbedaan ini Kini tersesali sudah perbuatan selama ini Namun apa boleh buat? Alam seolah sudah tidak menyadari
MUHAMMAD ARIEF SUGANDAApr 14
banyak sudah yang terjadi pada alam kita banyak sudah yang terjadi pada bumi setiap orang bertanggung jawab atas semua kesalahan dan kelalaian kita sebagai penghuni bumi
Marwah Multaraffi MuhammadApr 14
apa yang telah kita lakukan selama ini mendapat teguran dari ilahi dapatkan kita saling mengerti untuk menjaga bumi ini
Muhammad hasbyApr 14
Di mana kesombongan yang selalu kita banggakan Bak sebuah gempa di dasar laut yang menjadi penghantar untuk tsunami Kesombongan itu hanya mengantarkan bencana bagi bumi ini Akankah hal ini akan terus terjadi ataukah hal ini akan berhenti
Rafli Al FathanApr 14
ku harap engkau pergi dan mengerti kondisi kami saat ini kami lara..... terbelenggu didalam lockdown negara
Raihan Ramadhan AidilApr 14
Tetesan air mata menyentuh dinginya tanah Dunia tiada henti mempertontokan amarahnya Ingin diri ini menghakiminya Tapi apa daya hanya sebuah fatamorgana
Raudhatul KhasanahApr 14
Sungguh tega kau datang Datang tanpa membawa pesan Ketakutan, kecemasan kini menjadi tradisi Tak satupun dapat tenang melihat semua ini
Ryan EriansyahApr 14
Ini semua adalah bukti Bukti dari keserakahan diri Diri manusia yang tak mau mengerti Akan larangan dari sang ilahi Ini semua adahal hasil Buah tangan dari sang khalifah Yakni manusia yang amat serakah Menganggap dunia fana sebagai syurga
Join Sera Marini today
Log in to share your thoughts, repost, and like posts.
Pilih Featured Image
Pilih gambar dari perangkat Anda
Format didukung: JPG, PNG, WEBP, GIF, AVIF (Maks. 5MB)
Belum ada gambar yang pernah Anda unggah.
Customize your view
Manage your color and background. These settings affect your view on this browser.
Hanya pengguna terdaftar yang dapat berkomentar.
Sebelumnya tak begini, Aku mengenal bumiku sebelumnya
Tak ada yang salah dengan bumiku ini, dulu ku rasakan kenyamanan tinggal di bumiku tercinta
Bumiku baik baik saja
Dedaunan masih terus bekerja
Embun pagi masih membasahi pipi
Ditambah keindahan Kilauan mentari
Bumi akan terus baik baik saja
Jika ia tidak memikul beban yang semakin sarat
Jika manusia tidak serakah tamak dan jahat
Dan jika manusia bisa hidup tanpa gejolak
Bagaimana kisahnya kini?
Hal kecil berdampak besar
Tangisan kini semakin bergulir
Tinggal kita yang mengikuti bagaimana ia mengalir
Mengalir bersama sisa sia kenangan
Jatuh bersama air mata yang terbuang
Menunggu berubahnya takdir tuhan
Semoga penderitaan segera hilang
Isakan tangis mengulir perlan
Mengikuti alur perjalanan sunyi
Berita duka seakan membuyarkan lamunan
Berharap pandemi segera usai dan pergi
Terasa pahitnya keadaan yang telah menghancur kebahagiaan
aku ingin melihat semua terasa sempurna sedia kala
layaknya jalan lurus menuju surga
Sudah cukup kamu berada di bumi
Telah banyak jiwa yang diambil
Sudah cukup kamu bersenang-senang disini
Sebagai peringatan bagi manusia labil
Terkadang engkau menghukum yang benar
Tetapi disaat yang tidak tepat
Bukankah kamu sudah puas?
Melihat alam semesta ini
Kami kira makhluk bermahkota itu
Merekalah monsternya
Tetapi sejatinya
Kamilah monster itu
Kini semua kian berbeda
Ketika pandemi ini melanda
Seakan alam murka
Pada penghuni isi dunia
Sungguh miris melihat perbedaan ini
Kini tersesali sudah perbuatan selama ini
Namun apa boleh buat?
Alam seolah sudah tidak menyadari
banyak sudah yang terjadi pada alam kita
banyak sudah yang terjadi pada bumi
setiap orang bertanggung jawab
atas semua kesalahan dan kelalaian kita sebagai penghuni bumi
apa yang telah kita lakukan selama ini
mendapat teguran dari ilahi
dapatkan kita saling mengerti
untuk menjaga bumi ini
Di mana kesombongan yang selalu kita banggakan
Bak sebuah gempa di dasar laut yang menjadi penghantar untuk tsunami
Kesombongan itu hanya mengantarkan bencana bagi bumi ini
Akankah hal ini akan terus terjadi ataukah hal ini akan berhenti
ku harap engkau pergi
dan mengerti kondisi kami saat ini
kami lara.....
terbelenggu didalam lockdown negara
Tetesan air mata menyentuh dinginya tanah
Dunia tiada henti mempertontokan amarahnya
Ingin diri ini menghakiminya
Tapi apa daya hanya sebuah fatamorgana
Sungguh tega kau datang
Datang tanpa membawa pesan
Ketakutan, kecemasan kini menjadi tradisi
Tak satupun dapat tenang melihat semua ini
Ini semua adalah bukti
Bukti dari keserakahan diri
Diri manusia yang tak mau mengerti
Akan larangan dari sang ilahi
Ini semua adahal hasil
Buah tangan dari sang khalifah
Yakni manusia yang amat serakah
Menganggap dunia fana sebagai syurga