LAUTSA RAHMADIA ALMATURIDI – Fenomena Jawa-Sentris dan Ketimpangan Pembangunan di Indonesia

LAUTSA RAHMADIA ALMATURIDI – Fenomena Jawa-Sentris dan Ketimpangan Pembangunan di Indonesia

LAUTSA RAHMADIA ALMATURIDI – Fenomena Jawa-Sentris dan Ketimpangan Pembangunan di Indonesia

Berbagai publikasi berita menyampaikan bahwa pemerintah telah mengupayakan pembangunan indonesia yang menyeluruh ke semua wilayah Indonesia. Namun, pada implementasinya, sejak dahulu hingga kini istilah Jawa-sentris masih menjadi isu yang sering dibahas oleh berbagai kelompok masyarakat di seluruh penjuru negeri. Jawa-sentris merupakan suatu penekanan akan posisi Jawa yang  dianggap  sebagai  pusat dan dijadikan sebagai titik acuan Indonesia. Jawa-sentris dapat berarti adanya porsi yang lebih dominan (cenderung berlebihan) yang diberikan kepada Jawa dalam hal geografis, sejarah, politik, ataupun budaya (Nasution, et. al. 2024)  Hal ini merujuk pada data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2023 yang menyatakan bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) di daerah pulau jawa meraih angka yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya. IPM merupakan indikator strategis yang banyak digunakan untuk melihat upaya dan kinerja program pembangunan secara menyeluruh di suatu wilayah. Dalam hal ini IPM dianggap sebagai gambaran dari hasil program pembangunan yang telah dilakukan beberapa tahun sebelumnya (Susanti, 2013). Indeks pembangunan manusia mempresentasikan kualitas SDM yang secara pasti didukung oleh faktor-faktor lainnya. Faktor-faktor tersebut berupa SDA sebagai penyokong kebutuhan, kondisi ekonomi, kualitas fasilitas daerah, dan lain sebagainya. Keunggulan pulau jawa juga dilatarbelakangi oleh kondisi geografis dan historis yang baik pada akhirnya membuat pembangunan lebih mudah dilakukan di daerah pulau jawa.

Ketidakmerataan pembangunan di indonesia kerap kali menimbulkan rasa ketidakadilan di kalangan masyarakat luar Jawa.  Bagi mereka yang merasa daerahnya tidak dijadikan perhatian oleh pemerintah dalam program pembangunan indonesia, penyampaian kritik ke dalam berbagai media menjadi salah satu cara untuk menyalurkan ketidakpuasannya. Kekecewaan masyarakat terlihat semakin vokal terkhusus pada era digital. Sosial media yang semakin berkembang berperan besar sebagai wadah bagi masyarakat untuk mencari informasi serta menyampaikan pendapat mereka. Kritik dari satu kelompok dapat dengan mudah memengaruhi pandangan kelompok lainnya. Ketidakpuasan ini tidak hanya memicu kritik, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketegangan sosial dan politik yang lebih luas. Berbagai konflik yang terjadi di media sosial antar masyarakat daerah sangat mungkin terjadi.

Konsep jawa-sentris ini berkembang karena adanya berbagai faktor yang signifikan yang terjadi di indonesia. Semua faktor tersebut bermula dari masa kolonial Belanda. Belanda cenderung lebih mengembangkan wilayah di Pulau Jawa dengan mempertimbangkan segala aspek ekonomi dan politik yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Aktivitas ekonomi mudah dilakukan di Pulau Jawa karena kondisi lingkungan yang sangat mendukung. Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Pulau dengan jumlah gunung api terbanyak di Indonesia adalah Pulau Jawa. Terdapat sebanyak 34 gunung api yang terletak di Pulau Jawa. Adanya gunung api tidak selalu menjadi ancaman bagi penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya. Endapan vulkanik yang berada di sekitar gunung api mengandung banyak mineral dan unsur hara yang membuat tanah di kawasan tersebut menjadi subur. Tanah yang subur sangat berpotensi untuk pengembangan sektor ekonomi. Pada masa kolonial, Belanda mengembangkan berbagai tanaman komersial seperti kopi, teh, gula, dan tembakau, yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional.

 Peninggalan kolonial masih terlihat hingga sekarang dalam bentuk fasilitas dan infrastruktur yang dahulu dibangun di Jawa. Investasi yang tergolong besar dalam infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, dan sistem irigasi, mendukung pengembangan ekonomi. Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan dinilai sebagai penggerak pembangunan nasional dan daerah. Peran dari infrastruktur dalam pembangunan dapat dilihat dalam kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi yang implikasinya terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pengaruh infrastruktur terhadap peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, adalah peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses terhadap lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran (Widayati, 2010). Dengan memanfaatkan segala infrastruktur yang sudah terbangun serta mobilitas penduduk yang sudah berjalan dengan lebih teratur di Pulau Jawa, presiden pertama Indonesia menetapkan ibukota negara berlokasi di DKI Jakarta. Hal ini secara tidak langsung menciptakan siklus pembangunan yang terus menerus berlanjut di pulau ini.

Arus migrasi dan urbanisasi yang tinggi ke kota-kota besar di Jawa juga mendorong percepatan pembangunan di wilayah tersebut. Dengan segala keunggulan yang dimiliki wilayah di daerah tersebut, timbul rasa ketertarikan kelompok masyarakat untuk menetap di sana agar memudahkan mereka melangsungkan kehidupan sehari-hari dan mencari penghidupan. Ketertarikan masyarakat untuk pindah dan menetap di kota-kota besar ini tidak hanya mengakibatkan melesatnya angka populasi di daerah perkotaan, tetapi juga menimbulkan kekosongan SDM di daerah asal. Menurut data BPS, pada tahun 2020 persentase penduduk indonesia terkonsentrasi di pulau jawa sebanyak 56,10%. Daerah-daerah di luar Jawa sering kali kekurangan tenaga kerja muda dan terampil. Maraknya perspektif masyarakat bahwa tinggal di wilayah yang terbangun lebih memudahkan mereka untuk meningkatkan taraf hidupnya. Ini berdampak negatif pada pembangunan di wilayah-wilayah tertinggal, karena sumber daya manusia yang seharusnya menjadi penggerak pembangunan justru berkurang. Sementara peranan SDM yang berkualitas sangat dibutuhkan untuk menunjang pembangunan suatu wilayah.

Mutu pendidikan di suatu daerah sangat berpengaruh terhadap kualitas masyarakat. Ketika mutu pendidikan di suatu daerah rendah, maka kualitas SDM yang dihasilkan juga kurang optimal. Hal ini berdampak pada keterbatasan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan potensi wilayahnya. Fenomena ini tidak hanya mengurangi jumlah SDM yang tersedia di daerah tertinggal, tetapi juga menyebabkan "brain drain". Brain drain merupakan suatu fenomena yang merujuk pada migrasi intelektual (Gibson & McKenzie, 2010). Keberadaan brain drain umumnya hanya menguntungkan bagi wilayah yang lebih maju. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan stagnasi dalam pembangunan daerah tertinggal, sementara wilayah perkotaan terus berkembang dengan pesat. Dalam jangka panjang, ketimpangan ini dapat menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang lebih kompleks, seperti meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin serta ketidakstabilan sosial.

Fenomena Jawa-sentris yang telah lama berlangsung menciptakan ketimpangan pembangunan antara Pulau Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia. Ketidakmerataan ini semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat di daerah tertinggal, yang sering kali harus berjuang dengan minimnya infrastruktur dan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan yang terfokus di Jawa memicu migrasi besar-besaran masyarakat dari daerah tertinggal ke kota-kota besar di Jawa, yang akhirnya mengakibatkan brain drain. Mutu pendidikan yang rendah di daerah tertinggal semakin memperparah situasi, karena masyarakat setempat tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan wilayahnya. Akibatnya, daerah tertinggal mengalami stagnasi dalam pembangunan, sementara wilayah perkotaan di Jawa terus berkembang pesat. Ketimpangan ini tidak hanya menciptakan kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan sosial yang serius. Kritik dan ketidakpuasan masyarakat luar Jawa terhadap kondisi ini sering kali disuarakan melalui media sosial, mencerminkan rasa ketidakadilan yang mendalam.

Daftar Pustaka

Gibson, J., & McKenzie, D. (2010). The Economic Consequences of "Brain Drain' of the Best and Brightest: Microeconomic Evidence from Five countries.

Nasution, Widiastuti, & Muzni. (2024). Analisis framing Jawa-sentris terhadap pemberitaan Calon Presiden 2024 di media Detik.com periode 25–30 oktober. Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika Dan Komunikasi.

Susanti, S. (2013). Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto, Pengangguran dan Indeks Pembangunan Manusia terhadap Kemiskinan di Jawa Barat dengan Menggunakan Analisis Data Panel. Jurnal Matematika Integratif.

Widayati, E. (2010). PENGARUH INFRASTRUKTUR TERHADAP PRODUKTIVITAS EKONOMI DI PULAU JAWA PERIODE 2000-2008. Media Ekonomi.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!