Danish Prayata Hary Putra – Apakah Orang Miskin Tidak Boleh Berhasil ?

Danish Prayata Hary Putra – Apakah Orang Miskin Tidak Boleh Berhasil ?

Pernahkah kamu mendengar “orang kaya akan selalu kaya dan orang miskin akan selalu miskin”? Memang dalam beberapa kasus, kalimat tersebut dapat dipatahkan. Namun, pada kenyataannya, kasus tersebut tidak selalu terjadi. Nyatanya banyak keluarga miskin yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Berkebalikan dengan hal tersebut, banyak keluarga yang kaya tetap dalam kekayaan walaupun sudah bertahun tahun. Memang itu adalah kenyataan yang pahit. Namun apakah kenyataan ini tidak dapat diubah ?

Berdasarkan data dari IMF per April 2024, tingkat pengangguran di Indonesia menepati peringkat pertama di ASEAN. Menurut data tersebut, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5,2%. Ini berarti, ada sekitar 14,5 juta orang menganggur di Indonesia. Sedangkan pada negara jiran kita, Malaysia hanya memiliki tingkat pengangguran sebesar 3.5%. Mengapa hal ini terjadi? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat pengusaha untuk membuka lowongan pekerjaan. Para pengusaha acap kali memberikan syarat yang tidak masuk akal yang memberatkan para pengangguran untuk mencari kerja.

Contoh syarat yang paling sering diminta adalah memiliki pengalaman kerja di bidang yang serupa. Namun, jika semua perusahaan menerapkan hal yang sama, maka tidak ada perusahaan yang mau menerima pelamar yang tidak memiliki pengalaman pada bidang tersebut. Hal itu akan semakin menyulitkan para pelamar kerja yang baru lulus dari perguruan tinggi dan SMK. Sejalan dengan itu, kualitas dari calon pekerja juga dipertimbangkan oleh para pengusaha. Kebanyakan, mereka lebih menyukai lulusan Diploma IV, S1, S2 dan S3 dibandingkan dengan lulusan SMK. Mereka masih beranggapan bahwa semakin tinggi pendidikan maka semakin baik kinerja seseorang. Hal ini dapat menutup pintu kesempatan bagi mereka yang ingin bersungguh-sungguh dalam pekerjaan namun terbatas oleh biaya pendidikannya.

Namun, faktanya sebanyak 3,5 juta lulusan SMA di Indonesia tidak melanjutkan untuk bersekolah lagi, bekerja atau, mendapatkan pelatihan. Orang tersebut disebut dengan NEET (Not in Employment, Education, and Trainning). Mengapa banyak yang tidak ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi? Mungkin salah satu penyebabnya adalah tingginya harga UKT yang menyulitkan orang-orang yang tidak memiliki biaya pendidikan yang memadai. Belakangan ini harga UKT untuk PTN melambung tinggi bagi mahasiswa baru. Hal ini malah membuat para lulusan SMA/SMK takut melanjutkan pendidikannya karna takut membebani ekonomi keluarganya. Namun apa yang dikatakan Prof. Tjitjik Tjahjandarie di Kantor Kemendikbud Ristek, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2024), sangat membuat para mahasiswa baru kehilangan mimpinya untuk bisa duduk di bangku perkuliahan. Ia menyebutkan “Tetapi dari sisi yang lain kita bisa melihat bahwa pendidikan ini (perkuliahan) adalah tersiery education. Jadi bukan wajib belajar”. Kata-katanya mengibaratkan bahwa orang yang dapat melanjutkan pendidikannya hanyalah orang yang memiliki biaya pendidikan memadai. Padahal hampir semua perusahaan yang ada di Indonesia meminta minimal pendidikan pelamar sampai S1. Ini membuat semakin kecilnya harapan bagi orang miskin yang ingin menjadi sukses.

Semua hal yang dibahas di atas belum cukup membuat orang menengah ke bawah kesulitan untuk memperbaiki hidupnya. Apakah kalian pernah mendengar “orang yang memiliki kenalan pada suatu perusahaan cenderung lebih mudah masuk pada perusahaan tersebut”. Padahal, banyak orang yang berbakat di Indonesia yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun kenyataannya banyak dari mereka tidak mendapatkan pekerjaan karena kalah dengan orang yang memiliki ‘orang dalam’. Hasilnya kinerja dari orang tersebut tidak memuaskan. Contohnya saja kasus pada KOMINFO yang mengalami kebocoran data akibat orang yang berada di sana adalah orang yang tidak memiliki latar belakang dari bidangnya. Bukan hanya itu saja, banyak contoh di luar sana yang jauh lebih menyedihkan dan bahkan hingga membuat perusahaannya bangkrut. Ini membuktikan bahwasanya orang yang memiliki bakat yang luar biasa dapat kalah dengan orang yang biasa saja namun memiliki ‘orang dalam’.

Hal-hal yang sudah dibahas di atas membuktikan bahwasanya orang yang memiliki finansial yang baik serta memiliki ‘orang dalam’ dapat menjamin kesuksesan. Sedangkan, orang yang memiliki finansial yang kurang baik dan tidak memiliki ‘orang dalam’ akan sulit menjamin kesuksesannya. Ini mungkin terdengar seperti hanya keluh kesal ‘orang miskin’, namun inilah kenyataannya. Di negara ini, yang menyebutkan bahwa pada tahun 2045 akan menjadi tahun keemasan negara ini, malah mungkin akan menjadi masa kejatuhan negara ini. Itu terjadi karena sistem sosial dalam negeri ini menyulitkan para generasi muda untuk maju, sesuai dengan kenyataan-kenyataan di atas. Ditambah dengan beberapa kebijakan baru yang semakin menyulitkan para kalangan bawah. Contohnya seperti TAPERA (Tambahan Penderitaan Rakyat), pajak harga barang yang naik, bahkan wacana tentang setiap kendaraan bermesin harus memiliki asuransinya sendiri. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan bahwa “ Orang miskin memang tidak bisa berhasil ” dalam keadaan negara yang seperti ini.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!