Bunga Cahya Azzahra – Sagu Dapat Menjadi Alternatif Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi
Saat ini tengah beredar isu – isu mengenai Indonesia yang mengimpor beras dari negara tetangga, yaitu Thailand, Vietnam, Kamboja dan India. Banyak orang yang bertanya tanya mengenai hal itu, negara yang dulunya pernah berhasil melakukan swasembada tetapi kini malah mengimpor beras?. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), beras di Indonesia mengalami fluktuasi yang di pengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan iklim, berkurangnya lahan pertanian, serta kondisi tanah dan akses pengairan. Tidak hanya itu, dengan bertambahnya jumlah penduduk maka bertambah juga tingkat konsumsi di Indonesia. Di kondisi yang seperti ini, sudah sepatutnya kita mencari makanan pokok pengganti nasi. Menimbang dari segi ekonomis, makanan pokok pengganti nasi dinilai lebih murah di bandingkan beras. Tidak hanya itu dengan potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, juga menjadi kemudahan bagi kita untuk mendapatkan makanan pokok pengganti beras.
Nasi bukanlah satu satunya makanan yang mengandung karbohidrat. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang tinggi. Tentunya di negara yang hijau ini pasti memiliki banyak sumber daya pangan terutama yang mengandung karbohidrat. Di antara sumber makanan yang mengandung karbohidrat yaitu, jagung, singkong, ubi, talas, garut, sorgum, sagu dan masih banyak lagi. Memang benar sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memilih mengkonsumsi nasi. Namun, bagaimana jika ketersediaan beras atau nasi itu terbatas, dank arena keterbatasan itu mengakibatkan harga jual menjadi naik. Tentunya kita harus memiliki plan B untuk mengatasi hal tersebut.
Salah satu tumbuhan asli Indonesia yang potensinya cukup besar untuk di jadikan makanan pokok pengganti nasi adalah sagu. Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua merupakan daerah yang diyakini sebagai pusat asal sagu. Sagu (Metroxylon spp.) merupakan tumbuhan monokotil yang termasuk dalam ordo Spadiciflora, family Palmae, genus Metroxylon dan spesies Metroxylon spp. Dilansir dari Perpustakaan.menlhk MH Bintoro mengatakan, sekitar 5,5 juta hektar lahan sagu di Indonesia, 5,2 juta ha berada di Prov. Papua dan Papua Barat. Bahkan, Indonesia memiliki 50% dari potensi sagu dunia. Hal ini menunjukkan bahwa potensi ketersediaan sagu lebih besar di bandingkan beras. Potensi besar ini dapat dimanfaatkan dan akan menguntungkan secara ekonomi, budaya, lingkungan dan politik bagi Indonesia.
Selain potensi ketersediaannya, sagu memiliki kelebihan lain yaitu sagu mengandung karbohidrat yang lebih tinggi disbanding beras. Di lansir dari E-Journal UNSRAT sagu mengandung 84,70% karbohidrat, sedangkan beras hanya mengandung 78,90% karbohidrat. Hal ini terbukti ketika masyarakat Maluku terutama ibu-ibu rutin memberikan “papeda” kepada bayi di atas 6 bulan. Mereka mengatakan bahwa berat badan bayi mereka bertambah atau dalam istilah sehari-hari “body pica-pica” atau badan besar dan kuat. Pernyataan ini merupakan hasil penelitian dari Papilaya pada tahun 2009. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado pernah melakukan eksperimen untuk membandingkan keefektifan sagu dan beras untuk menaikkan berat badan dengan sampel 30 ekor tikus wistar jantan. Dan hasilnya kelompok tikus yang diberi sagu mengalami peningkatan dari 186,33 g menjadi 219,33 g. Sedangkan kelompok tikus yang diberi beras malah mengalami penurunan dari 194,67 g menjadi 165,33.
Sagu dapat diolah menjadi beragam olahan makanan, salah satunya yang paling terkenal adalah papeda. Papeda merupakan makanan tradisional yang berasal dari Maluku dan pesisir Papua. Makanan ini dibuat dengan cara menambahkan tepung sagu dengan air panas secukupnya kemudia diaduk hingga mengental. Papeda biasanya di hidangkan bersamaan dengan ikan tongkol atau bubara kuah kuning. Sagu juga dapat di jadikan olahan camilan yang lezat, yaitu ongol-ongol. Ongol-ongol memiliki tekstur yang kenyal dan biasanya dimakan dengan campuran kelapa parut. Beralih dari makanan, sagu juga dapat diolah menjadi aneka ragam minuman. Seperti cendol sagu dan sagu mutiara. Cendol di hidangkan dengan campuran santan dan gula merah, tak jarang juga di dalamnya terdapat sagu mutiara. Kebanyakan dari olahan sagu bertekstur kenyal.
Secara keseluruhan, sagu dapat menjadi alternatif makanan pokok pengganti nasi. Dilihat dari jumlah dan potensi keberadaannya di Indonesia, sagu lebih unggul dibandingkan beras. Apalagi saat ini lahan persawahan Indonesia saat ini semakin berkurang. Tidak hanya dari segi potensinya, dari segi kandungan karbohidrat, sagu memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan nasi. Hal itu terbukti dengan beberapa penelitian terhadap sagu. Sagu juga dapat diolah dan di kreasikan menjadi beragam olahan masakan. Dengan demikian masyarakat tidak perlu khawatir bosan mengkonsumsi sagu. Dengan sedikit perhatian dari pemerintah, sagu bisa saja menggantikan posisi nasi sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.
Hanya pengguna terdaftar yang dapat berkomentar.
No comments yet. Be the first to share your thoughts!