BINTANG SAYYIDAH MAHARANI – “Apakah Privilege (Perlakuan Khusus) Bagi Orang Yang Cerdas Dalam Bidang Akademik Itu Menentukan Kesuksesan?”

BINTANG SAYYIDAH MAHARANI – “Apakah Privilege (Perlakuan Khusus) Bagi Orang Yang Cerdas Dalam Bidang Akademik Itu Menentukan Kesuksesan?”

Seseorang dinilai berdasarkan tingginya pencapaian prestasi dibidang matematika, sains maupun aktifnya ia didalam mengikuti kelas merupakan hal yang umum terjadi. Orang dengan kecerdasan akademik dianggap pasti sukses dikemudian hari. Orang dengan kecerdasan akademik dianggap memiliki masa depan yang jelas dan cerah. Hal itu tidak hanya terjadi di zaman sekarang saja, bahkan sterotipe tersebut sudah ada sejak bertahun tahun yang lalu. Lantas orang orang yang memiliki kemampuan lebih dari segi akademik kerap mendapatkan perlakuan khusus atau umumnya disebut dengan privilege. Privilege merujuk pada hak istimewa atau keuntungan khusus yang dimiliki oleh orang dengan kriteria tertentu ataupun golongan tertentu. Hal ini bisa berupa akses, kesempatan, atau manfaat yang memberikan keistimewaan tertentu berdasarkan status sosial, ekonomi, atau kriteria lainnya. Lalu privilege bagi orang orang pintar merujuk pada asumsi bahwa menjadi pintar di mata masyarakat memberikan validasi pendidikan. Validasi tersebut bisa berupa kemudahan dalam mencari pekerjaan, bahkan kemudahan untuk mendapat akses pendidikan yang lebih baik

Lantas mengapa sterotipe adanya privilege bagi orang orang yang cerdas dalam bidang akademik ini bisa timbul?. Alasan yang jelas terpampang nyata ialah adanya sistem pendidikan formal di Indonesia. Sistem pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur serta berjenjang. Mencakup pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.  Pendidikan formal sering kali menilai dan mengakui standar kecerdasan seseorang melalui ujian, skor, ataupun gelar. Hal tersebut menciptakan hierarki dimana mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi dianggap lebih berharga dan kerap mendapatkan lebih banyak kesempatan. Selain itu media yang sering kali menyoroti prestasi akademik, menciptakan citra bahwa hanya prestasi di bidang tersebut yang layak untuk dicontoh atau dihargai. Orang-orang yang dikenal sukses di masyarakat umumnya memiliki latar belakang akademik yang kuat, hal ini juga yang menjadi salah satu faktor munculnya sterotipe mengenai privilege bagi seseorang dengan kecerdasan akademik dan memperkuat pandangan bahwa akademik adalah indikator utama dari kemampuan seseorang.

Munculnya sterotipe privilege bagi orang orang yang cerdas dalam bidang akademik ini tentunya memunculkan dampak negatif dalam kehidupan sosial. Keberadaan privilege dapat menciptakan kesenjangan dalam kesempatan belajar. Siswa dari latar belakang yang kurang mahir dalam bidang akademik tidak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan berkualitas, pelatihan tambahan, atau pengalaman yang dapat meningkatkan kecerdasan akademik mereka. Contoh sederhana  di era saat ini, sekolah unggulan kebanyakan memiliki jalur tes berupa tes akademik. Hal tersebut membuat seseorang yang mahir di bidang non-akademik tidak memiliki sempatan yang setara. Tanpa sengaja sekolah memberikan privilege kepada seseorang yang memiliki kecerdasan dalam bidang akademik. Kemudian siswa yang cerdas tetapi tidak mendapatkan pengakuan atau kesempatan yang sesuai karena kurangnya privilege dapat mengalami stres, kekecewaan, dan hilangnya motivasi. Mereka merasa bahwa kemampuan mereka tidak dihargai. Ketika masyarakat hanya memberi pengakuan kepada orang-orang dengan prestasi akademik tinggi, ini dapat menciptakan persepsi bahwa hanya ada satu jalan yang benar menuju kesuksesan.

Jika demikian yang terjadi di lingkungan sosial saat ini, lantas membuat seseorang yang memiliki kemampuan lebih di bidang selain akademik justru tersingkirkan. Apakah sebenarnya mereka juga berhak mendapatkan privilege yang setara?. Tentu saja semua elemen masyarakat berhak mendapatkan perlakuan yang setara.  Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Theory) yang dikemukakan oleh Howard Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan tidaklah tunggal, tetapi terdiri dari berbagai jenis kecerdasan yang masing-masing memiliki kekuatan dan kemampuan tersendiri. Hal ini menunjukan bahwa setiap individu tentunya mempunyai kapasitas kecerdasan yang berbeda di setiap bidangnya dan tidak terfokus pada bidang akademik saja. Dengan mengakui keahlian non-akademik memberikan inspirasi bagi orang lain untuk mengejar jalur yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Kesehatan mental dan kesejahteraan sosial tidak semata-mata ditentukan oleh prestasi akademik. Menghargai dan memberikan privilege kepada individu di berbagai bidang membantu menciptakan lingkungan yang lebih seimbang dan mendukung semua aspek kehidupan.

Faktanya masyarakat tentunya memerlukan berbagai keterampilan dan bakat untuk berfungsi sesuai dengan konteksnya. Keahlian non-akademik, seperti keterampilan teknis, seni, olahraga, dan kewirausahaan, sangat berharga dan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan sosial dan ekonomi. Sering kali, inovasi dan kreativitas muncul dari seseorang yang berpikir di luar batas akademik. Mereka yang memiliki keahlian non-akademik dapat membawa perspektif dan ide baru yang sangat berharga. Individu yang cerdas dalam bidang non-akademik tentunya memiliki pola pikir dan sudut pandang yang berbeda sehingga memberikan kontribusi yang berbeda pula di masyarakat. Kesehatan mental dan kesejahteraan sosial tidak semata-mata ditentukan oleh prestasi akademik. Menghargai dan memberikan privilege kepada individu di berbagai bidang membantu menciptakan lingkungan yang lebih seimbang dan mendukung semua aspek kehidupan.

Dengan demikian, kesuksesan tidaklah disebabkan adanya privilege kecerdasan akademik saja. Hal tersebut hanyalah sterotipe yang muncul karena pandangan masyarakat yang belum terbuka. Sukses atau tidaknya seseorang tentunya didukung oleh  seberapa besar usaha seseorang mengejar atau mempertahankan yang ia cita-citakan. Punya privilege yang mumpuni, tak lantas membuat seseorang hanya mengandalkan privilege itu tanpa ditunjang pengetahuan dan skill yang mumpuni juga. Privilege bagi seseorang dengan kecerdasan akademik itu tidak sepatutnya dipertahankan. Sudah saatnya masyarakat membuka pandangan bahwasanya setiap individu memiliki kapasitas kecerdasan yang berbeda, Privilege tak hanya soal kecerdasan dan akses serta relasi yang mumpuni. Privilege seharusnya menjadi hak yang lebih luas yang mencakup berbagai keahlian dan pencapaian, bukan hanya terbatas pada prestasi akademik saja.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!